Jigong

November 28th, 2008 by greeny-me

Kalau ditanya, “pernah ga periksa ke dokter?” Setiap orang paling tidak menjawab “iya, pernah”. Meskipun barangkali hanya satu kali seumur hidupnya.

Nah kalau lebih spesifik lagi, “pernah ga periksa ke dokter gigi?” Pasti jawabannya ga sama. Boleh jadi yang menjawab “belum pernah” lebih banyak ketimbang yang “sudah pernah”. Saya adalah salah satu dari kebanyakan orang itu.

Pekan lalu ada ilham saya harus memeriksakan gigi. Bukan karena sakit gigi, tapi karena setiap kali menggosok gigi, ada saja yang berdarah. Kondisi ini bukan hanya sekali, dua kali, tapi berkali-kali. Tapi, biasa, saya menganggapnya enteng.

Kali ini, saya merasa harus memeriksakan gigi. Soalnya sudah tiga hari berturut-turut kondisi ini tidak juga mereda. Salah juga sih ya, ke dokter karena merasa sakit. Padahal harusnya kan preventif. halah gayanya…

Pagi itu saya ke Puskesmas. Katanya sih, murah. Hehe…ga mau rugi ya? Saya menunggu satu jam lamanya sampai si dokter datang. Sayalah pasien pertama.

Di dalam kamar periksa, gigi saya tidak langsung “dioprek”. Saya lebih banyak diajak bicara tentang bagaimana saya hidup. Artinya, bagaimana pola hidup saya. Barulah saya diperkenankan menaiki kursi khas dokter gigi. She said “Giginya bagus ko. Rapi. Perawatannya juga baik”

Cieh…senangnya. Tapi kemudian “Ya, karena belum pernah datang ke dokter gigi, jadinya karang giginya numpuk” Huwa….pengen nangis!!! “Tapi karang giginya ga banyak ko. Sebentar dibersihkan juga beres”. Tanpa ba bi bu lagi, saya ok-in.

Benar saja, ketika dibersihkan, dokternya baru sadar kalau gusi saya sering berdarah. Rupanya, gusi saya tergolong sensitif. Jadinya saya disarankan rajin minum vitamin C. Atau paling baik, ya makan buah-buahan.

Lumayan tidak sampai satu jam mulut saya bersih sekali. Agak-agak linu sih, tapi wajar saja lah. Kan alatnya dari baja tahan karat. Kena gigi ya jelas ngilu. Yang penting hasilnya. Gigiku bersih dan nafasku HAH!!!Segar…

Harganya???? Hm… Rp 100 ribu aja tuh. Dan ternyata harga yang sama juga ditarifi oleh dokter gigi yang praktek sendiri (ini kutahu dari ibu-ibu yang ngobrol denganku sepulang dari Puskesmas). Jadi, ga ada salahnya ko ke Puskesmas. Pelayanannya pun memuaskan. Haha…jadi humas Depkes nih…

Hanya Satu Persen

November 10th, 2008 by greeny-me

 

Satu hari saya mendengar seseorang di radio menyatakan bahwa dari sekian banyak orang yang kita beri nasehat, maksimal hanya satu persen saja yang melaksanakan apa yang kita nasehatkan. Untuk orang-orang yang terbiasa menjadi ‘’keranjang sampah’’ masalah teman-temannya, pernyataan ini seperti terasa menyakitkan.

 

 

Betapa tidak, perlu waktu panjang dan lebar mendengarkan mereka menumpahkan segala permasalahan yang mengganjal hati. Mata, telinga, mulut, perasaan, semuanya ikut serta saat menerima luapan amarah, kesedihan, kegundahan, kesulitan, kecemasan, kegetiran, rasa muak, sesal, apapun yang tidak mengenakkan. Maklum, mereka curhat biasanya saat merasa sebagai orang paling merana sedunia. Betul kan?

 

 

Coba saja dilihat kembali, sudah berapa banyak orang yang curhat kepada kita? Nah dari mereka yang dating, berapa banyak yang meminta nasehat kita? Dari mereka yang meminta nasehat, berapa banyak yang setuju dengan nasehat itu? Dan kemudian dari mereka yang setuju, berapa orang yang mau melaksanakan nasehat yang kita berikan? Dari mereka yang mau melaksanakan, berapa banyak yang melaksanakannya sesuai dengan apa yang dinasehatkan? Hm…ternyata memang tidak banyak, bukan? Satu persen malah boleh jadi terlalu banyak.

 

 

Nah kalau ternyata perjuangan menjadi ‘’keranjang sampah’’ hanya berhasil satu persen, buat apa diteruskan? Eits, tunggu dulu. Keranjang sampah tidak pernah memilih apa pun yang akan masuk ke dalam dirinya tapi tetap saja dicari karena memang fungsinya menjadikan ruangan lebih bersih.

 

 

Begitu juga para pendengar curhat yang setia. Meskipun tingkat keberhasilannya sangat rendah, bukan berarti tidak berguna. Karena terkadang, orang sudah tahu jalan terbaik untuk memecahkan masalahnya. Mereka hanya butuh penguat secara psikologis untuk melaksanakan caranya tersebut. Dan satu lagi, masing-masing orang adalah yang paling paham dengan kondisi social, budaya, ekonomi, politis dari permasalahan yang dihadapinya. Jadi masing-masing pula lah yang paling tahu cara menyelesaikan permasalahannya.

 

 

Jadi, mana mungkin masalah akan jernih jika tidak ada ‘’keranjang sampah’’, setuju? Wah, dengan mengajukan pernyataan seperti ini, saya juga harus siap-siap dengan tingkat keberhasilan yang maksimum hanya satu persen tampaknya. =D

Hal Baru

October 31st, 2008 by greeny-me

Nyaris empat pekan ini aku mengalami hal baru: kuliah lagi. Bukan, bukan mengambil program pasca sarjana. Aku mengambil program singkat empat bulan, Akta IV. Wah mau jadi guru ya?

 

 

Aku mengambil kuliah bukan semata-mata hanya ingin menjadi pendidik. Jika kesempatan itu muncul padaku, alhamdulillaah. Aku memang bercita-cita menjadi guru sejak masih mengenakan seragam putih merah. Meski kemudian cita-cita itu tidak kurealisasikan karena keburu alih perhatian ke wilayah lain dan menyita perhatianku bertahun-tahun.

 

 

Sekitar dua tahun lalu, keinginan untuk mewujudkan cita-citaku itu kembali hadir. Rasanya profesiku saat itu tidak membuatku menikmati apa yang kulakukan. Aku mulai mencari informasi untuk bisa mendapatkan ilmu kependidikan. Maklum, aku bukan lulusan keguruan. Tapi lagi-lagi tertunda (menunda-nunda diri sebenarnya karena masalah keuangan. Hehe..). Sampai akhirnya di paruh pertama tahun ini aku menemukan institusi yang menurutku pas untuk kumasuki dan kuserap ilmunya. Akupun melayangkan permintaan informasi formal dari lembaga tersebut.

 

 

Setelah melalui pembahasan bersama suami, akhirnya aku memutuskan untuk memulai program Akta IV tersebut ASAP. Jika ada di antara kawan-kawanku yang melihatnya sebagai pelarian seusai mengundurkan diri dari tempat kerja, aku tak ambil pusing. Toh prosesnya jauh sebelum itu terjadi. Tapi jujur, memulai kuliah dengan kapasitas sebagai “bukan orang kantoran” membuatku jadi lebih nyaman. Jelas, tidak ada hal-hal yang menjadi penghambat jalanku, terutama pikiranku dan tenagaku. Maklum kuliahnya sih memang satu hari dalam sepekan, hanya hari Sabtu, tapi mulai dari pagi sampai sore. Belum lagi sebulan sekali harus juga hadir di hari Ahad untuk ujian!!!

 

 

Kuliah lagi rasanya berat. Otak kalau sudah terlalu lama ngendon, parah juga ya? Sedang berjuang nih untuk ujian pertama Ahad nanti. Berjuang melawan kantuk dan rasa malas ternyata jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Wuih…

 

 

Lantas apa nanti akan memang benar jadi guru? Pertanyaan seperti ini memang belum terjawab. Tapi dari apa yang sudah kudapatkan dalam empat pekan ini, setidaknya ilmu itu berguna untukku jika kelak Allah Swt menitipkan anak pada kami berdua. Jadi guru kelak juga tidak masalah. Kalau jadi dosen? Hm…tar dulu deh, masih harus sekolah lagi soalnya. Biar dua level lebih tinggi pendidikan formalnya dari mahasiswanya. Hehe…

 

 

Makanya sementara ini, jadi guru saja dulu karena tidak bermasalah dalam soal jadwal kerja dengan rumah tangga. Jadi, apa ada yang butuh guru Bahasa Jerman?

Rahasia Illahi

August 22nd, 2008 by greeny-me
Semuanya adalah milik Allah dan akan kembali kepada-NYA.
Manusia berencana Tuhan menentukan.
Tidak asing kan dengan kalimat-kalimat itu? Tapi itulah yang berkelebat dalam benakku saat kabar itu tiba. Kuyakini, itulah yang terjadi pada setiap kejadian di diri kita.
Malam itu aku terkejut. Suamiku membawa kabar yang menyedihkan. Seorang tetangga kami macuk ICU RS Pelni.
Keterkejutanku bukan karena ia adalah tetangga kami karena terus terang, aku tidak tahu yang mana orangnya. Maklum, aku pendatang baru di lingkungan ini. Kebetulan, aku bukan tipe orang yang "netangga" alias ga gaul.
Kabar itu membuatku terenyuh. Betapa tidak, lelaki itu masuk ICU dua hari menjelang pernikahannya dengan gadis pujaannya. Tak tanggung-tanggung, ia langsung koma lantaran lima organ pentingnya sudah rusak, mulai jantung, hati, ginjal, paru-paru, sampai usus. Dokter yang menanganinya saja sudah pasrah.
Dua hari kemudian rasa haru muncul lagi. Tamu undangan berdatangan ke tempat resepsi di sebuah gedung di kawasan Karet. Tak ada pengantin di sana. Catering tetap menyediakan makanan bagi undangan. Maklum, mereka sudah dibayar tunai.
Bukan salaman, senyuman, dan ucapan selamat yang bertebaran. Undangan yang keburu hadir karena tidak sempat diberi tahu perihal masuknya calon pengantin pria ke ICU RS Pelni. Pembawa acara mengumumkan kabar tersebut di tengah-tengah santap siang undangan. Mereka diminta mendoakan si calon pengantin yang terbaring lemah tak sadarkan diri di rumah sakit. Isak tangis mewarnai makan siang yang sedianya menjadi bagian rasa suka cita dua keluarga yang menjadi satu lantaran pernikahan.
Tepat satu pekan di ICU RS Pelni, lelaki muda itu menyerah. Ia menemui sang Khalik di malam hari. Tak ada ijab kabul yang akan diucapkannya untuk gadis pujaan hati. Tak ada shalawat nabi yang menghiasi iring-iringan pengantin.
Senyum berubah menjadi lekukan cemberut. Tawa berubah menjadi tangis. Ucapan selamat berubah menjadi turut berduka cita. Lagu cinta melankolis maupun berdentam berubah menjadi puji-pujian kepada Yang Maha Kuasa agar jenazah mendapat tempat yang layak.
Lelaki berusia 25 tahun itu harus pergi selamanya. Selamat jalan, insyaallah diberikan kemudahan

Belajar Hidup

July 29th, 2008 by greeny-me

Satu lagi aku belajar dari kehidupan. Pelajaran bernama kejujuran. Selama ini aku diperbudak oleh sesuatu yang tak jelas bentuknya. Apa yang kudapatkan dari perbudakan itu hanyalah ketidakjelasan. Semakin lama kusadari, aku diperbudak diri sendiri. Menyakitkan.

Rupanya selama ini aku tidak jujur pada diri sendiri. Langkah yang kuambil hanya membuat diri ini terseret ke arah yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Malah jauh melintasi dari apa yang seharusnya kulalui.

Sampai satu hari aku disadarkan. Caranya memang sakit. Tapi lebih sakit lagi jika tidak disadarkan. Satu bab dalam hidup yang masih perlu pengujian. Aklu baru belajar, malah baru belajar sub bab pertama.

Tapi dari belajar kejujuran, aku mendapat bonus tambahan pelajaran: keikhlasan. Satu bab yang katanya sulit dilakukan tapi sangat mudah diumbar disebarkan lewat kata. Rupanya keduanya memang harus dipelajari beriringan. Jujur dan ikhlas.

Lucu Tapi Kasihan

July 18th, 2008 by greeny-me

Hari ini aku tidak nebeng suami. Aku naik bis dari Bundaran Slipi. Alhamdulillah aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan bis jurusan Pasar Minggu di tengah hari yang terik. Memang, enaknya aku menaiki bis 48 jurusan Grogol-Depok via Warung Buncit. Selain AC, dengan menggunakan bis itu aku tidak perlu berganti-ganti kendaraan. Langsung turun di depan kantor. Praktis. Tapi sayang, menunggunya harus satu abad. Lama…..banget.

Jadi, begitu ada bis 54 jurusan Grogol-Depok via Pasar Minggu. Panas sih, tapi daripada menunggu lama, lebih baik aku menaiki saja bis yang ada. Biasanya sih, lalu intas hari Jumat ke arah Pasar Minggu masih lancar. Jadi paling tidak, panas di daam bis tidak akan terlalu lama.

Alhamdulillaah aku mendapatkan duduk. Bangku pertama di belakang sopir. Bangku ini spesial karena arah hadapnya bukan ke sopir melainkan ke arah samping, pintu keluar-masuk penumpang. Ya, istimewa lah dibandingkan bangku lainnya yang kompak menghadap ke kaca bis bagian depan.

Bersamaan denganku menaiki bis, ada juga beberapa orang lainnya (mungkin sekitar delapan sampai sepuluh orang) yang juga berebut naik dan duduk. Alhamdulillaah semuanya dapat duduk, kecuali seorang ibu. Ia memang tidak mau meski ditawari duduk. Soalnya, dia membawa anak (yang kelihatannya kalau tidak autis, ya down syndrome. Maaf bukan ahlinya). Meskipun bertubuh besar (sekitar tinggi 180 cm dan berat 90 kg), tapi ia tidak biasa. Ibunya pun berkali-kali mengucapkan (kelihatannya sih sengaja supaya orang-orang mengerti ”Ya, memang dia ga normal ko”).

Terenyuh rasanya melihat dua ibu dan anak itu. Sang ibu tampaknya sudah renta. Setiap kali dia berbicara, tak tampak deretan gigi di rahang bawah. Hanya gusi. Rahang bagian atas juga tidak dipenuhi gigi. Anaknya yang meskipun bertubuh nyaris tiga kali lipat besarnya dari sang ibu, tampak lemah. Bukan secara fisik, tapi secara emosional. Ibu yang berbaju biru dan kerudung biru itu terlihat lebih kuat dari ukuran tubuh mungilnya. Seakan ia melindungi anaknya yang duduk manis di bangku kedua deretan dua bangku, tangan kirinya bertolak pada sandaran bangku yang diduduki anaknya sambil lima jarinya mengusap-usap kepala anaknya. Sekali waktu topi anaknya dibuka dan ia usap-usap rambut anaknya. Yang diusap-usap hanya tersenyum-senyum atau melihat-lihat ke jendela.

Ketika seorang lelaki di deretan bangku ketiga, tepatnya di belakang anak tersebut turun, sang ibu barulah mau duduk. Tapi kemudian ia berdiri lagi. Ia menawarkan kepada perempuan yang duduk di sebelah anaknya untuk bertukar tempat. Perempuan yang memang tegang sejak anak lelaki bongsor itu duduk di sebelahnya, segera mengiyakan. Maklum, ia kaget (dan mungkin juga khawatir karena anak itu melakukan tindakan yang tak bisa diprediksi. Ia mengucek-ngucek kan jari telunjuk kanannya ke telinga kanan kemudian memasukkan jari yang sama ke dalam mulutnya. Itu terjadi beberapa kali). Maka, duduklah ibu beranak bersejajar. Mengejutkan pula, jendela bis dibuka dengan kekuatan yang (mungkin bagi dia wajar) kuat sampai muncul bunyi ”brak” dan ibunya pun berseru ”Astaghfirullaah!”

Perhatianku yang lain datang dari seorang ibu yang duduk di singgasana bis (sebutanku untuk tempat duduk penumpang di atas mesin bis di samping sopir). Ibu yang kutaksir berusia 50-an tahun ini duduk bersama anak gadisnya (bisa jadi cucunya) yang masih ABG. Mereka tampaknya baru selesai belanja dari Pasar Tanah Abang. Ada sekitar empat jinjingan yang dibawa. Dua jinjingan plastik menyebutkan nama toko pakaian yang tersembul dari dalam kain batik. Satu jinjingan lagi adalah mesin jahit yang dibungkus kain hitam. Terdengar bunyi ”bruk” saat ditempatkan tak jauh dari kakiku. Satu jinjingan lainnya entah apa isinya tapi dibungkus kain warna pink. Ibu dan gadis itu masing-masing mengenakan tas selempang.

Di satu kantong plastik, menyembul dua batang sedotan plastik berwarna merah. Tebakanku, es campur. Ternyata salah. Itu adalah es cendol dengan mutiara merah dan tape. Mungkin disebut es podeng ya? hehe…aku lupa.

Aku tahu ketika ibu itu nampak kehausan. Ia mengambil plastik tersebut dan membukanya lalu memasukkan sedotan. Begitu mulai menyedot, sedotan mengempis sehingga tidak ada yang bisa membasahi kerongkongannya. Beberapa kali dicobanya tetap saja tidak membuahkan hasil. Ia longgarkan sedotannya, mulailah ada sedikit air gula yang bisa membasahi mulutnya. Tapi tak lama kemudian, kempis lagi. Karena kesal, ia memberikannya kepada anak gadis itu. Karena aku tidak bisa melihatnya, aku tak tahu apakah gadis itu berhasil menyedot air gula. Tapi kelihatannya berhasil karena kemudian si ibu jadi bersemangat lagi untuk membasahi lidahnya. Tapi, lagi-lagi sedotannya kempis.

Akhirnya, si ibu membuang dua buah sedotan berwarna merah itu ke pintu (waduh buang sampah sembarangan nih…). Dia ikat bagian atas plastik bening lalu menggulingkannya. Bagian bawah plastik ia sobek dengan cara menggigitnya.

Wajah si ibu kembali cerah. Keningnya yang berkerut-kerut sewaktu menyedot mulai rata kembali. Ada rasa lega di wajahnya. Setelah beberapa teguk air gula diminumnya, ia sodorkan pada anak gadis di sebelahnya.

Hehe…..

Girls of Riyadh

July 17th, 2008 by greeny-me
Baru saja saya menyelesaikan
novel berjudul Girls of Riyadh. Seperti biasa, saya membacanya melalui
pinjaman dari kakak ipar. Tapi kali ini orangnya beda lagi. Dia kakak
kandung suamiku yang tidak biasanya membeli novel.

 
Karena
dia kemarin sibuk mengurusi buku, sepatu, tas, seragam ketiga buah
hatinya, maka daripada menganggur, novel itu kubaca. Tentu saja atas
izin pemilik.
 

Tiga
hari selesai sudah kubaca novel yang tebalnya ya hampir sama lah dengan
buku-buku Kang Abik alias Habiburrahman El Shirazy. Kalau buku Kang
Abik, rata-rata kulahap selama satu pekan karena bahasanya yang agak
memutar dan penggambarannya yang rinci menyebabkan saya terkadang harus
menyesuaikan imajinasi di dalam benak dengan gambaran tokoh sampai
latar belakang suasana.
 

Nah,
kalau novel ini berbeda sama sekali. Penulisnya, seorang perempuan muda
bernama Rajaa, tidak membuat rincian tempat dan penokohan. Ia lebih
menggugah pembaca dengan pemikirannya, pemahamannya, melalui empat
tokoh inti dalam ceritanya. Jarang sekali ditemukan dialog. Ia lebih
senang memaparkan.
 

Kalau
dibilang bagus, rasanya novel ini tidak masuk kategori itu. Baik
bahasa, alur, penokohan, masih banyak yang perlu dipoles. Dibilang
jelek pun, ga lah. Apalagi yang bilang saya, seseorang yang sampai saat
ini novelnya ga jadi-jadi. Hehe..
 

Yang
kutangkap dari novel itu kesederhanaannya bertutur dan satu hal yang
penting: jujur. Ia tidak menutup mata dengan apa yang terjadi di sebuah
negeri kaya di Timur Tengah. Negeri yang kalau kita dengar, sangat
sadis, ketat. Tapi dari penuturannya, ia kemukakan apa yang benar-benar
terjadi di sana di masa kini.
 

Dia
bukan mau menarik orang untuk tidak sepakat dengan aturan yang
diterapkan di negerinya. Barangkali dia memang merasa terikat, tapi
tidak memaksa orang untuk ikut sama-sama membuka ikatan karena dia
tahu, ikatan itu yang membuatnya menjadi nyaman.
 

Yang
saya senangi dari gayanya bercerita adalah menampilkan kalimat-kalimat
Tuhan di hampir setiap episode cerita. Kadang-kadang ia menggantinya
dengan pemikiran tokoh, syair lagu, atau puisi. Nah, menurut saya
kalimat-kalimat Tuhan yang dikutipnya, menjadi penyeimbang sekaligus
pengingat pembaca akan apa yang sebenarnya dikehendaki Maha Pemilik
Alam Semesta ini terkait cerita yang dikemukakannya dalam setiap
episode. Satu hal yang jarang saya temukan (karena memang jarang baca
buku. Hehe…).
 

Meski
dia penulis yang bahasanya sederhana, pemaparannya yang bertumpuk, tapi
mungkin benar apa yang dibilang Andrea Hirata sewaktu sempat bertemu
dan ngobrol dengannya beberapa waktu lalu. Karyanya yang fenomenal,
Laskar Pelangi, diminati banyak orang, tua, muda, laki, perempuan,
kaya, miskin, karena isinya tentang hal-hal yang manusiawi, yang
dirasakan semua orang. Kedekatan emosional.
 

Nah,
Girls of Riyadh juga menurutku seperti itu. Makanya di sampul buku
(entah benar atau tidak dalam kenyataannya di lapangan) tercantum
”best seller”. Kedekatan emosional itu bukan hanya bagi perempuan
yang merasa terkungkung dengan aturan keperempuanan di lingkungannya
berada tapi juga laki-laki yang selama ini sulit menebak apa yang
dirasakan perempuan. Dan, sekali lagi, Rajaa menuliskan ayat Tuhan
untuk menjadi alarm keliaran berpikir, merasa, dan berimajinasi atas
hidup.
 

Saya jadi iri dengan perempuan yang baru berusia 25 tahun ini. Novel pertama tapi sudah bisa menggugah orang. Minimal, saya.

Aneka Ria Safari & MTV

July 14th, 2008 by greeny-me

Geli rasanya. Baru saja orang-orang di belakang bangkuku di kantor bercerita tentang keterkejutan (”mungkin lebih tepatnya baru nyadar kali ye…”) mereka melihat teman-temannya menjadi berubah tampangnya alias menua. Teman-teman mereka itu pejabat-pejabat masa kini yang dulu waktu masih memulai karir menjadi sahabat kawan-kawan seniorku di kantor.

Cekikikan mereka berkomentar. ”Ih, dulu kan dia paling imut. Ga nyangka sekarang begitu”. Atau ada juga celetukan ”Dulu kan mudah deh rasanya, lebih muda dari aku. Ko sekarang kayaknya tuaan dia deh”.

Mereka mengomentari teman-teman narasumbernya yang muncul di salah satu acara hiburan menyanyi, acara khusus mengenang masa lalu. Mereka pun mengomentari lagu-lagu yang dinyanyikan para pejabat masa kini itu.

Kebetulan, di dekat mereka ada rekan kerja yang seumuran denganku (kelahiran era 1980-an) berujar ”Lagu apaan tuh? Kayaknya lagu zaman Aneka Ria Safari”. Gr…tertawalah semua. ”Iya juga ya. Mereka kan generasi MTV. Biarlah kalau kita memang generasi Aneka Ria Safari,” kata rekan seniorku.

Haha…
Memang usia tidak bisa dibohongi ya? Meski badan misalnya ditutupi dari ketuaan, atau muka dirawat sedemikian rupa sampai operasi segala, kalau diajak ngobrol, pasti ketahuan dia hidup di zaman apa. Bahkan pilihan lagu yang jadi bahan obrolan juga menunjukkan usia.

Anak-anak seusiaku bukannya tidak kenal atau tidak pernah mendengar lagu-lagu zaman babe ato engkong kita. Kita tahu ko. Tapi memori denganlagu itu kayaknya bukan dialami sendiri deh. Kalaupun ada memorinya, pasti berkenaan dengan babe atau engkong, atau anggota keluarga yang memang usianya jauh di atas kita.

Rekan-rekan kerjaku yang usianya jauh lebih tua dan mungkin seumuran atau lebih tua dari orang tuaku sendiri, pastinya kenal atau minimal pernah mendengar lagu-lagu zaman MTV. Tapi ya itu tadi, memorinya tidak mungkin di masa kegenitan mereka di SMA atau kuliah. Pastinya itu berkenaan dengan anak-anak mereka atau teman-teman mudanya, seperti kita-kita ini.

Kalau disuruh milik Aneka Ria Safari atau MTV, mana yang mewakili?

COPET!!

July 9th, 2008 by greeny-me

Iya ya, nyebelin yang namanya copet itu. hari ini, meski bukan aku yang mengalaminya, tetep aja ikut kesel. Padahal korbannya pun aku ga kenal.

Hari ini aku menunggu bis ke kantor di Sarinah. Tadinya mau naik busway, tapi ingin mencoba hal lain jadinya aku menunggu bus Tanah Abang-Depok via Warung Buncit. Lumayan, menunggunya lebih dari 30 menit (syukurin..=D)

Nah, hari ini angin keras banget. Makanya untuk menanggulangi angin yang heboh itu mendera diriku, sengaja aku menunggu di sebelah tiang besar penopang jembatan Sarinah. Lumayan, paling tidak angin dari arah Monas ga langsung menerpa badan aku yang kelaparan karena belum makan dari pagi.

Banyak sekali orang lalu-lalang di situ. Banyak juga yang menungu bis. Ada juga yang berjualan asongan. Macam-macam lah pokoknya.

Di bawah tangga, ada seorang perempuan yang juga menunggu bis. Entah jurusan apa. Dia mencangklong tas anyam berbentuk buah semangka dibelah empat yang ramai dipakai banyak orang (tau dong ya..). Perkiraanku, dia tidak jauh lebih tua hanya badannya agak lebih pendek dariku. Ia mengenakan celana jeans yang trendi (baca: ngepas badan), kaus putih, dan rompi jeans. Karena sengatan matahari, ia kulihat mengeluarkan kaca mata hitam segede tatakan gelas untuk menutupi matanya.

Kami sama-sama menunggu bis. begitu juga yang lain. Laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, ABG, semua tumpah ruah. Ada yang datang ada juga yang pergi seiring kedatangan dan kepergian bis aneka jurusan.

Karena angin yang tidak pernah berhenti bergemuruh, mau tak mau aku sering membalikkan badan ke arah perempuan itu supaya mataku tidak terkena debu atau benda-benda lain yang terbawa angin. Ketika satu kali mengarahkan kepala ke arah dia, kulihat dia sedang terkejut. Tangannya mengaduk-aduk tas semangkanya. Lalu memegangi kantung-kantung celana jeansnya. Ia juga bertanya kepada ibu-ibu yang sedang bersama anaknya. Tak jelas apa yang ditanyakannya tapi sepertinya ia bertanya apakah ibu itu melihat seseorang yang membuka resleting (bener ga nulisnya ya?) tas semangkanya itu. Dompet dan HP-nya raib.

Kelimpungannya itu mengingatkan aku saat aku juga kehilangan dompet di tengah keramaian saat masih di Bandung. Betapa ngenesnya uang SPP harus raib padahal uang itu akan aku bayarkan keesokan harinya.

Di Jakarta pun aku sempat hampir kecopetan. Ketika itu aku menaiki Kopaja P20 dari Warung Buncit menuju Kuningan. Di kawasan Timah, naik sekitar lima orang laki-laki berpakaian rapi, kemeja dengan celana panjang kain. Di dalam kopaja, aku duduk di bangku belakang dekat pintu. Tapi ketika turun, aku melalui pintu depan, khawatir sopir ngebut sebelum dua kaki menjejak di tanah.

Sesampainya di pintu, lelaki yang berkemeja dan duduk di bangku jajaran sopir mengibas-ibaskan tangannya di bahu kananku. ”Kotor, Mba”. Lalu laki-laki berkemeja pula yang duduk tepat di belakang laki-laki pertama mengatakan hal serupa sambil mengibas-ibaskan tangannya ke bagian bawah celanaku.

Refleks, aku pun mengikuti arah tangan mereka. Tas yang kucangklong di bahu kiri sedikit terbuka. tapi alhamdulillaah dengan cepat aku rasakan ada yang aneh dengan itu semua. Benar saja. Begitu aku kempit (bahasa Indonesia yang bener apa ya?) tasku lebih rapat, ada sebuah tangan yang sedang berada di dalam tasku.

Kaget, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku cuma melotot. Aku langsung turun. Begitu turun, aku obrak-abrik tasku. Memang tidak ada yang hilang tari resletingnya sudah rusak, tidak bisa disambung lagi. Tapi perasaanku saja yang merasa aku harus memperingatkan copet itu.

Karena jalanan macet, kopaja itu hanya sekitar 100 meter di depanku. Kukejar dan kembali kunaiki. Lucunya, karena aku juga masih shock, aku cuma berkata ”Heh” sambil menunjukkan jari telunjuk kananku kepada orang berkemeja yang mengibas-ibaskan tangannya ke kemejaku (kebetulan dia masih di situ). Anehnya, orang itu langsung bilang ”Apaan sih mba, saya kan bukan copet!”

Kupikir karena toh tidak ada yang hilang, aku langsung turun. Lututku masih gemetaran.

Ah copet memang menyebalkan. makanya waktu aku naik Kopaja 502 dari Tanah Abang ke Cikini, ada copet yang ketahuan dan ditonjok sama tiga orang, perasaanku (jujur) senang juga. Padahal sebenarnya ga boleh kan? Tapi gimana, aku pernah jadi korban makhluk-makhluk macam itu…

Ketika Cinta Bertasbih

June 22nd, 2008 by greeny-me
”Rim, ikut audisi aja” seru kawanku.
”Audisi apaan?”
”KCB,” ujarnya sambil tertawa.
”Jadi siapa? Emaknya?”
”Iya. Hahaha..”
Sudah beberapa waktu belakangan ini aku melihat iklannya di koran (katanya di televisi juga ada. Tapi aku belum pernah melihatnya). Iklan Audisi Pemeran Ketika Cinta Bertasbih (KCB). Karya Habiburrahman El Shirazy kembali akan dilayarlebarkan setelah Ayat-ayat Cinta (AAC) sukses.
Memang AAC bisa disebut fenomenal. Dalam kurun tiga hari saja, sudah ditonton oleh…. juta orang. Itu yang di bioskop, yang di DVD dan VCD bajakan, belum termasuk.
Soal KCB, aku bukan ingin membahas tentang proses audisi yang katanya ingin menampung aspirasi pembaca supaya tidak kecewa seperti pembaca AAC terhadap filmnya. Katanya lagi, cerita yang dilayar lebarkan tidak akan ada yang berbeda dengan versi buku. Makanya, peserta audisi dites juga soal pemahamannya atas novel itu. Wuih..
Aku sekali lagi tidak membahas soal audisi. Di sini aku mau mengemukakan pendapat pribadi terhadap KCB. Menurutku, KCB itu penceritaannya film banget. Tidak seperti saat membaca AAC yang tokohnya begitu asik bercerita dengan diri sendiri, KCB lebih visual.
Mungkin wajar saja ya kalau AAC terkesan tokohnya lebih asik sendiri karena pada saat itu Kang Abik (Habiburrahman El Shirazy) tengah mencari pasangan hidup. Maka begitu bertemu, jadilah naskah asli AAC dimaharkan.
Kembali ke KCB. Seperti halnya ketika mulai membaca novel AAC, aku tidak antusias membaca KCB. Jadi jangan harap aku punya novelnya di rak buku.
Waktu itu kakak iparku baru saja pulang dari kantor. Bruk, diletakkannya setumpuk buku di atas lemari. Banyak sekali aku sampai tidak hafal judul-judulnya. Enggan pula aku mencari tahu buku apa saja yang dibelinya itu.
Di lain hari, ada satu buku bersampul hijau dengan tonjolan pembatas buku dari beberapa lembar awal buku. Iseng, kubaca judulnya, ”Ketika Cinta Bertasbih”. Pikirku, waduh cinta-cintaan lagi deh. Kubaca sinopsisnya di bagian belakang. ”Hm, mirip Fahri,” begitu gumamku. Lalu kubuka buku itu dan kubaca. Herannya, kubaca terus sampai mendekati pembatas buku kakak iparku.
Karena yang punya mau pulang, otomatis bukunya dibawa. Secara dia maniak buku. Aku pun mengorek bukunya yang lain. Yup, buku yang dibawanya waktu itu. Ada satu buku bersampul merah ati dari pengarang yang sama, judulnya ”Di Atas Mihrab Cinta”.
Kali ini, aku antusias karena ternyata buku itu novelet, berisi tiga cerita. Entah mengapa aku senang dengan novelet. Mungkin karena tidak pendek dan juga tidak panjang tapi isinya sudah pol! Akhirnya aku membaca novelet itu sampai akhirnya kakak iparku selesai dengan KCB. Hehe..ga mau rugi ya buat beli sendiri.
Jujur, aku lebih suka noveletnya dan kutunggu-tunggu novel Di Atas Mihrab Cinta. Lebih Indonesia menurutku. Eh, tapi kan kita sedang bahas KCB ya? Hehe.. Dibandingkan AAC, aku lebih suka novel dwilogi ini. Lebih visual.
Saking visualnya, aku sudah bisa membayangkan di benakku scene-scene dari setiap cerita di KCB dalam format film. Cie.. Tapi itu benar.
Dalam film versi benakku, ada tiga tokoh utama, yaitu Azzam, Anna, dan Furqan. Masing-masing bermonolog dalam setiap kisahnya. Kalau pernah nonton film Nia Dinata yang judulnya Berbagi Suami, nah kurang lebih seperti itu. Jadi ada tiga tokoh bercerita. Pada saat semua sudah cukup dengan kisahnya, aku pertemukan mereka dalam satu cerita dengan sudut pandang orang ketiga.
Hehe.. lucunya, aku sudah membayangkan panjangnya filmku itu. Kurang lebih tiga jam. Itupun tanpa memasukkan cerita tentang Sarah, sedikit Husna, tanpa temannya Husna yang mengandung, sedikit proses ta’aruf dengan dokter Puskesmas, tanpa Rina, tanpa menyinggung pekerjaan mengantarkan buku secara detil (banyak banget ya tanpanya). Kalaupun harus dipaksa dipotong, minimal filmku berdurasi 2,5 jam. Hehe.. maruk ya?
Tapi itulah. Menurutku keberhasilan Kang Abik dalam novelnya kali ini adalah membiarkan pembacanya membuat sendiri karya dalam bentuk lain, meski hanya dalam benak sepertiku. Kalau mau kerja sama, boleh banget tuh. Hahaha… Minimal aku bisa ikut serta tampil di sana. Hihi..